November 5, 2009 by artja
kupinjam tanganmu
untuk menulis duka
dan barangkali sepasang harapan
di matamu.
kau pun berangkat setelah menuliskan pesan
tanpa alamat, di lembaran daun-daun berserakan.
jingga yang bergetar sore hari
memagar batas cerita antara dongeng dan kenyataan
tak seragam.
berapa jarak sesungguhnya antara engkau
dan harapanku? berabad-abad kutembus hutan
tanpa jalan setapak yang mengarah ke rumahmu.
maka kupinjam ceritamu
seperti kau meminjam dahan pohon di tengah hutan
yang memagut sepi. mencekik rasa rindu
hingga pencarian akrab
dalam catatanku.
Posted in puisi | Tagged poem, poetry | 1 Comment »
December 30, 2008 by artja
: Palestina
sebuah negri
terhimpit bencana bertubi-tubi
pengusiran, perampasan,
membidani lahirnya generasi pejuang.
pembunuhan, pembantaian,
melahirkan generasi yang selalu siap perang.
atas nama kemanusiaan, kita adalah saudara.
atas nama kemanusiaan, kita merasakan ketidakadilan.
bagaimana mungkin adil kalau batu dilawan lapis baja?
bagaimana mungkin adil kalau kemiskinan ditindas sumber uang
tak ada habisnya?
sebuah negri
bukan belas kasihan yang dinanti
tapi ketulusan berjuang menegakkan keadilan.
dari kejauhan kita cuma bisa mengirimkan doa
semoga surga adanya….
Jakarta, 30 Desember 2008
*) sampai tulisan ini diposting, sudah 300 lebih yang gugur, hanya dalam 2 hari saja penyerangan brutal israel berlangsung di Jalur Gaza
Posted in manusia | Tagged palestine | 11 Comments »
December 26, 2008 by artja
:v
aku kira kita tak akan bertemu lagi
dalam balutan pakaian serba putih
dan kaki tanpa alas kaki
kau berjalan, bergandenga tangan dengan entah siapa
seperti tak mengenal siapa-siapa yang pernah kau jumpai.
sudah selesaikah ceritamu,
tentang sawah-sawah menguning siap panen
tentang anak-anak kecil berlarian di pematangnya.
dan semua rencana seperti sawah setelah panen
: tak bisa digunakan sebelum datang musim hujan
aku kira kita tak akan bertemu lagi
karena musim tak mau menunggu
dan kita tak bisa saling menjaga hingga pagi
Posted in puisi | Tagged puisi | 3 Comments »
December 11, 2008 by artja
Setelah empat tahun
masih saja ada yang tidak tepat.
Kadang emosi bagai ombak mengalun
kadang mengalir terlalu cepat.
Setelah empat tahun terlewati,
aku pun sadar
bahwa menjadi suami
adalah proses untuk belajar
Posted in rupa-rupa | Tagged puisi, puisi cinta | 8 Comments »