Feeds:
Posts
Comments

benarkah itu engkau

:cm

tak ada yang mampu mengenali langkah ringanmu
ketika berada di taman bunga bermekaran.
seolah tiap lamunan menjelma sayap kupu-kupu,
berkepakan diantara mahkota bermekaran.
lalu setiap tatapan menyapa lembut bersahutan
dan setiap ucapan bagai embun bergayut,
menyejukkan.

tapi, benarkah itu engkau
yang kemarin membingkai senja dengan daun-daun
kering berguguran, yang kemarin menyiram mimpi
dengan doa dan isak tertahan.

berapa sesungguhnya jarak pergantian musim,
antara redup senja dan rasa yang datang
bersamaan dengan musim bunga bermekaran?

barangkali memang tak jauh jarak itu , hanya sebatas
separuh kesabaran. atau sedekat lengkung alismu
ketika sepasang matamu mengedip cepat
seolah tersipu memberi isyarat:
“ya, itu aku. membuatmu luruh dalam catatan
tak bekesudahan.”

Jakarta, 2 November 2011

Melintas Sebentar

Rindu Hutan (5)

Kau pernah, mendengar ricik air di sela-sela
resah yang membanjir?
Menyusup perlahan diantara bisikan doa
dan langkahmu, diantara panggilan
menuntutmu.

Lalu deretan bunga Mucuna seperti tirai
mencakar langit hati menorehkan rindu.
Inilah hutan
sesungguhnya. Yang menyimpan kerinduan diam-diam
hingga tak lagi nyata perbedaan antara hujan
ataukah isak terakhir dari tangismu
:semua akan diterima hutan
seperti bumi memanggil kesuburan.

Sampaikah pesan itu, Kekasih.
ketika gerimis menebar suara tangis
dan tumpahan kekesalan langit?
: ia mengundangmu.

Bersama deretan araucaria yang berbaris rapi
seolah hendak mengawal langkah kecilmu di jalan setapak
berbatu. Kau tahu, di sana tak ada sehelai daun pun gugur
selain karena hendak menyapamu.

Sampaikah?
Karena hingga kini, masih saja kesibukanku
tak mampu menerjemahkan rindu ini.

Jakarta, 18 Nopember 2010

: N

Dari sumber duka yang mana sungai ini mengalir…
di sela kaki melangkah, diantara suara kesibukan pagi,
bunga ini hanya tersiram airmatanya sendiri..

Wahai pemilik seribu wajah kerinduan
begitu sibukkah engkau hingga tak sempat datang
walau hanya sebagai gerimis kecil di pagi hari?
ketika dunia berputar dan roda kereta bergemuruh
bunga ini masih menari dalam irama tangisan,
hanya tersiram airmatanya sendiri.

Ia melarutkan malam dalam dekapan mimpi berembun,
memekarkan cerita tentang hujan
yang tak juga sampai dari tinggi birunya gunung yang jauh.
Tapi airmata tak akan berhenti sekadar sebagai do’a.
“Ia menyuburkan akar tumbuhku,
walau bercampur air hujan” ujarmu
di suatu malam penuh genangan.

Maka mimpipun usai kau sematkan di taman
dan bunga pun tak gugur di pinggir hutan.

Jakarta, 1 Nopember 2010

Rindu Hutan (4)

Tak ada binar matamu.
Hanya cahaya bulan seperempat usia, menerobos daundaun
di atap hutan ini. Kalau langit cerah awal malam,
Kau tentu bisa juga menyaksikan.
Memang, kalau sepintas lihat,
ia sama seperti bulan yang sudah-sudah,
seperti sedang ragu-ragu melepas senyum untukmu.
Tapi percayalah, bulan pun malam ini mencatat,
betapa pertemuan bisa terwakili lewat sebaris doa singkat
yang tulus terucap.,

Maka di tengah hutan sunyi ini, yang aromanya
berkali-kali menegaskan kehadiranmu,
aku menyelipkan bayang wajahmu diantara kata-kata doa
yang terucap. Mungkin tak utuh dan tegas,
seperti bulan yang hanya seperempat
dan seperti ragu melepas senyum untukmu.
Tapi percayalah, namamu terucap juga di sana.

Dan di sela rapat hutan sunyi hutan bisu,
aku hanyalah jalan setapak
yang sedang mencari selarik puisi
dan lintasan singkat menuju senyummu.

Bukan sungai

berulang kali kau sebut dia
rindu, berulang kali kau hadapi kenyataan itu
: tak semua sungai mengalir lurus ke lautan

kadang dia bergegas mencarimu
alirannya tercurah deras jadi jeram

kadang ia sengaja singgah dahulu
dan berlama-lama menjadi telaga di tengah hutan

jadi ikuti saja riaknya, yang kadang bergelora
seolah tak ada waktu untuk menundanya,
namun tak jarang membuat kita tersipu
untuk sekadar mengucapkannya..

tapi setidaknya semua sungai akan menjumpai lautan
tidak seperti diriku,
bukan sungai, bukan telaga,
bukan muara.
namun selalu terpaut dengan laut
di hatimu. tanpa pernah boleh memilih
dengan cara apa aku karam di dasar berkarang itu.

sepanjang lintasan,
bukit-bukit beku berlarian
dari jendela.
buram,
seperti tak pernah dibersihkan

tapi benarkah
kenangan tak bisa luruh
meski jejak duka telah lama terhapus dari sudut
mata dan jendela berdebu?

inilah hari-hari sibuk.
berpindah dari satu peron ke peron beku yang lain;
dari satu puisi
ke rahim butiran embun yang lain.

tinggal bukit-bukit berlarian dalam ingatan
dan rel besi lurus kaku

di hadapan. masihkah kau telusuri peta lusuh itu
ketika diam-diam telah kucoret sejumlah nama
dan persinggahan. kuhapus, agar sempurna perjalanan
bersamaMu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.