December 30, 2008 by artja
: Palestina
sebuah negri
terhimpit bencana bertubi-tubi
pengusiran, perampasan,
membidani lahirnya generasi pejuang.
pembunuhan, pembantaian,
melahirkan generasi yang selalu siap perang.
atas nama kemanusiaan, kita adalah saudara.
atas nama kemanusiaan, kita merasakan ketidakadilan.
bagaimana mungkin adil kalau batu dilawan lapis baja?
bagaimana mungkin adil kalau kemiskinan ditindas sumber uang
tak ada habisnya?
sebuah negri
bukan belas kasihan yang dinanti
tapi ketulusan berjuang menegakkan keadilan.
dari kejauhan kita cuma bisa mengirimkan doa
semoga surga adanya….
Jakarta, 30 Desember 2008
*) sampai tulisan ini diposting, sudah 300 lebih yang gugur, hanya dalam 2 hari saja penyerangan brutal israel berlangsung di Jalur Gaza
Posted in manusia | Tagged palestine | 8 Comments »
December 26, 2008 by artja
:v
aku kira kita tak akan bertemu lagi
dalam balutan pakaian serba putih
dan kaki tanpa alas kaki
kau berjalan, bergandenga tangan dengan entah siapa
seperti tak mengenal siapa-siapa yang pernah kau jumpai.
sudah selesaikah ceritamu,
tentang sawah-sawah menguning siap panen
tentang anak-anak kecil berlarian di pematangnya.
dan semua rencana seperti sawah setelah panen
: tak bisa digunakan sebelum datang musim hujan
aku kira kita tak akan bertemu lagi
karena musim tak mau menunggu
dan kita tak bisa saling menjaga hingga pagi
Posted in puisi | Tagged puisi | 3 Comments »
December 11, 2008 by artja
Setelah empat tahun
masih saja ada yang tidak tepat.
Kadang emosi bagai ombak mengalun
kadang mengalir terlalu cepat.
Setelah empat tahun terlewati,
aku pun sadar
bahwa menjadi suami
adalah proses untuk belajar
Posted in rupa-rupa | Tagged puisi, puisi cinta | 8 Comments »
December 2, 2008 by artja
ombak itu tak lagi bergejolak.
gunung-gunung merapat, memagarnya.
ia menjadi danau
dengan air tenang bagai kaca.
kalau angin dari puncak gunung datang
ia bisa menari,
menampilkan riak gembira di wajahnya.
tapi angin tidak datang tiap hari
maka ombak itu kembali lenyap
lelap di balik permukaan danau.
“ke mana kau pergi kalau tidak ke tempat asal?”
maka ombak ini gelisah di balik tenang permukaan.
ia rindu badai menghempas tubuhnya,
ia mencari jerit liar burung camar.
ia kehilangan gelora
yang sering hadir diantara hujan
yang mememercikkan semangatnya.
ia kini diam, menjadi danau.
kecil, terhimpit gunung-gunung yang memagar rindu.
mencari laut yang kau sembunyikan
di hatimu.
Desember 2008
Posted in puisi | Tagged poetry, puisi | 3 Comments »