Ia memang tak pernah diminta datang
tapi jangan pernah bilang ia tak tahu adat
karena menyingkap selimut di ujung mimpimu
yang lembut dan tetap hangat.
Seluruh kelam akan lenyap,
juga cahaya.
Lebur dalam mahkotanya.
Selalu akan seperti ini,
tiap kali kubuka jendela, maka kau menjelma
bagai bayang-bayang di langit hati.
Ah, selamat pagi, Kekasih
senang melihat senyum terhampar
setelah kau berdiri di pinggir jurang keraguan malam tadi.
Maka mimpi itu mengendap kembali,
seperti kabut yang terlihat sebagai entah
dan duka yang menjelma barangkali.
Jakarta, Juni 2008
maka dalam harap yg terdekap
jadilag matahari
yg siap menerangi bilik hati
sebab pancaran cahayanya
meluruhkan bimbang yg mengambang
di penantian bahagia
mega berarak tergesa
mengiring kepak anak-anak camar
yang kegirangan berdecit riang
hari ini hari yang cerah
senyummu itu, mentari…
ah matahari, kekasihku
pada kabut menghangatkan pagi
kadang membakar, aku menggelepar :d
matahari dan kekasih…sama2 panas ya
beruntung sekali kekasih yang punya blog ini
selamat
Ketika matahari datang embun terbunuh olehnya ….
Puisinya hebat-hebat, Thank dah mampir di blogku.
bang artja….. makasih ya puisinya! (lho..?)
ya, maksudnya., keren
komennya koq pada nulis puisi lagi ya?
ya., insyaAllah, suatu hari nanti saya ngasih komen puisi lagi!
aku ingin menjadi halimun pada pagi itu,kang.
agar bisa membaui harum wangi jiwamu
karena kekasih bisa menghangatkan hati kita
seperti mentari yang menghangatkan bumi
kekasih akan menerangi alam pikiran dan hari kita
seperti mentari yang menyinari bumi
ah
…..
kekasih akan datang dan pergi
seperti mentari yang terbit dan terbenam
fLdNaG comment1 ,