selalu dimulai dari sini:
ketika hanya ada kami berdua,
aku dan kecemasanku sendiri
bahkan tatkala surya telah berangkat menghabiskan energinya
aku masih saja seperti orang buta
dengan lentera yang lupa dinyalakan
dan berputar putar mencari bayangan tengah malam
maka kubuka lagi segenap peta lusuh yang pernah kubuka,
mata angin yang telah kuikuti arahnya,
dan ricik sungai yang memanggil lautan darahku mengikutinya.
tapi selalu saja kembali ke sini:
ketika hanya ada kami berdua,
aku dan kecemasanku sendiri
mencari seribu bulan
barangkali hanya satu
antara aku, kecemasanku, dan cintamu.
Ramadhan, 1429 H
puisi keren. berlatar lailatul qadr, yang muncul adalah ketidakpastian, yang ditandai kecemasan. ah, dikau memang pandai merangkai kata, kawan.
lailatul qodr adalah rahasia tuhan, yang pasti ada setiap tahun pada bulan ramadlan, makanya bulan ramadlan adalah bulannya umat nabi terakhir. apakah kita mendapatinya atau ketiduran hanya tuhan yang tahu. semoga tahun depan kita akan menjumpai ramadlan kembali.
komen apa ya tja? baguspun tak cukup. I love this kali yah