ombak itu tak lagi bergejolak.
gunung-gunung merapat, memagarnya.
ia menjadi danau
dengan air tenang bagai kaca.
kalau angin dari puncak gunung datang
ia bisa menari,
menampilkan riak gembira di wajahnya.
tapi angin tidak datang tiap hari
maka ombak itu kembali lenyap
lelap di balik permukaan danau.
“ke mana kau pergi kalau tidak ke tempat asal?”
maka ombak ini gelisah di balik tenang permukaan.
ia rindu badai menghempas tubuhnya,
ia mencari jerit liar burung camar.
ia kehilangan gelora
yang sering hadir diantara hujan
yang mememercikkan semangatnya.
ia kini diam, menjadi danau.
kecil, terhimpit gunung-gunung yang memagar rindu.
mencari laut yang kau sembunyikan
di hatimu.
Desember 2008
adakah ombak itu akan kembali mendeburkan laut ke pantai
bila pagarnya diuntai lewat tamparan angin?
aku hanya ingin mengucapkan; ” selamat malam,mas. gimana khbnya?”suwun.
tak apa ia diam seperti danau
asal ia bahagia
alhamdulillah launching antologi puisi lancar… tak pameri sampean…