Kau pernah, mendengar ricik air di sela-sela
resah yang membanjir?
Menyusup perlahan diantara bisikan doa
dan langkahmu, diantara panggilan
menuntutmu.
Lalu deretan bunga Mucuna seperti tirai
mencakar langit hati menorehkan rindu.
Inilah hutan
sesungguhnya. Yang menyimpan kerinduan diam-diam
hingga tak lagi nyata perbedaan antara hujan
ataukah isak terakhir dari tangismu
:semua akan diterima hutan
seperti bumi memanggil kesuburan.
Sampaikah pesan itu, Kekasih.
ketika gerimis menebar suara tangis
dan tumpahan kekesalan langit?
: ia mengundangmu.
Bersama deretan araucaria yang berbaris rapi
seolah hendak mengawal langkah kecilmu di jalan setapak
berbatu. Kau tahu, di sana tak ada sehelai daun pun gugur
selain karena hendak menyapamu.
Sampaikah?
Karena hingga kini, masih saja kesibukanku
tak mampu menerjemahkan rindu ini.
Jakarta, 18 Nopember 2010
msh slalu menanti rindu rindu hutan slanjutnya…
tak kan habis rinduku utknya…
hehe.. makasih N..
hik..hik…hikk jadi terharu membacanya
makasih sudah mampir..
rindu seringkali hanya bisa dirasakan, tanpa bisa diterjemahkan
betul juga…
*masih merasakan rindu*
rindu hutan, jadi rindu juga suasana kampung di masa kecil, sekarang sudah berubah..
araucaria itu apa ya mas? nice poem salam kenal.. tukeran link ya
rindu takkan bisa diterjemahkan.. nikmati saja mas rindu itu..
[...] ini, tanpa disengaja saya melihat dan membaca serta baru mengetahui bahwa ada kegiatan b2w di kota Bogor. selama ini saya masuk dalam [...]
juga rindu yg memanggilku ke sini
rindu hutan, tarian nyanyian rimba yg mencipta puisi
hutan asli tempat kerinduan
hutan industri serasa hampa
kerennnn puisiiiinya….