Sejak masih di blogspot sampai setelah dimirror ke wordpress, serta kemudian terpisah dan berdiri sendiri, selalu ada yang tanya tentang nama blog ini.
Kenapa namanya pantai keempat? Begitu kalimat yang sering saya dapat. Saya sangat berterima kasih kepada yang sudah mengajukan pertanyaan tersebut. Sebab saya tahu pertanyaan itu merupakan bentuk perhatian. Tapi saya biasanya tidak langsung menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Bukan berarti saya tidak peka terhadap bentuk perhatian itu, atau bermaksud mengabaikan siapa saja yang sudah menanyakannya. Namun saya merasa pertanyaan itu bukan tuntutan mendesak sehingga saya tak merasa perlu untuk segera menjawabnya.
Lagipula saya yakin, beberapa orang tertentu sudah bisa menebak kenapa nama itu yang saya pilih sebagai label blog ini. Namun, kali ini saya akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tanda “kasih” itu.
Kenapa Pantai Keempat? Alasannya sederhana saja, karena saya suka sekali dengan puisi di bawah ini. Coba baca dan resapi, deh… pasti semua setuju bahwa puisi di bawah ini begitu memesona:
Chairil Anwar:
Senja di Pelabuhan KecilIni kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.1946
Nah, karena saya sangat menyukai puisi di atas, jadi jangan heran kalau blog ini saya beri nama pantai keempat. Nama itu saya pinjam dari kata ke-74 dan ke-75 pada puisi di atas.
Juga jangan heran kalau kemudian saya bikin blog lain yang saya beri nama dengan kata-kata seperti hilang ombak, atau desir hari, atau kelepak elang, atau pelabuhan kecil, atau sedu penghabisan, atau tiada berlaut, atau kata-kata lainnya yang terdapat pada puisi di atas. Sebab, saya memang beneran suka dengan puisi itu.
ini juga salah satu puisi kesukaanku jadul sih wkt msh suka tereak2
gimana ya Chairil bisa nulis sehebat itu?
o….dari puisi ini tho….datengnya ‘pantai keempat’ , terjawab deh pertanyaan di dalam hati…hehehe…makasih…
waah jadi gara-gara puisi ini yahh,,,keren juga,,,,
wah., mas artja.. puisinya keren2… perlu banyak belajar nih
*dan saya memang kagum pada orang2 yang puisinya bermakna mendalam
sekalian silaturahim mas..
btw, izin me-link blognya ya!
salam hangat dari Riyadh
sukma
http://sukem06.wordpress.com
wah mas …oke juga
trimakasih dah mampir keblog saya…
perasaan aku ninggalin kontak address aku di blog kamu, kok gak ada ya? hehe…kena spam kali ya. kalao ke medan mampir ya.
ini alamat kantor: Jl. Garuda No: 61A, Sei Sikambing B, Medan 20122. Phone: 061 8452203. Kalo rumah sih sering kosong kalo siang
Kirain mengandung makna kuantitas
ternyata yang bener penggalan kata dari Puisi diatas
wahh … karena Chairil ya !! aku pikir tempat kenangan …
heeee ..
^_^
Sempat heran dan bertanya-tanya juga… tp pas dah baca, ya bisa dimengerti.
salam kenal juga bos
tukeran link yukkk…
sekedar informasi
http://kemudian.com
situs komunitas anakpecinta puisi dan sastra
gabung ja …
http://kemudian.com/user/ningrat_oey ( profilku)
Aslkm..
Mas,, kenapa pantai keempat ??
hahahaha…
i’m coming back mas,,met blogging yak !!